NAMA : Lulu Atun Nafisah
NIM : F1A014039
FAKULTAS : Ilmu Sosial dan Ilmu Politik
PRODI : Sosiologi
KELOMPOK : 19
“Hidupmu
Dulu,Kini,dan Nanti”
Hidup adalah anugerah, anugerah yang tak bernilai harganya. Kehidupan
juga merupakan sebuah proses, sebuah kesempatan yang diberikan Tuhan kepada
kita, agar kita tahu siapa diri kita, siapa tuhan kita, dan yang paling penting
adalah apa tujuan kita diciptakan.
Nama saya Lulu Atun Nafisah. Saya berada didunia ini karena kedua orang
tua saya yang selalu dengan sabar merawat saya sejak kecil. Dulu saya tinggal
di desa kelahiran ibu saya (Melayang). Disana saya merasa tenang, karena banyak
orang-orang yang baik sama saya. Terutama sahabat kecil saya, Widia Nur Astuti
namanya, dia biasa dipanggil Widi. Dulu kemanapun saya pergi pasti bareng dia.
Bermain,makan,belajar, semua bareng dia. Tapi setelah saya pindah ke desa
kelahiran bapak saya (Mergasana), saya menjadi jauh dengan dia. Bertemu dengan
Widi merupakan mimpi setiap malam saya dan mimpi itu diwujudkan setiap saya
berkunjung kerumah nenek.
Sejak tahun 2009, Widi pindah ketempat bapaknya bekerja yaitu di Tanjung
Pinang. Semakin jauh raga ini dengannya. Dia tidak pernah pulang, karena dia
harus menyelesaikan sekolahnya disana. Dan mulai saat itu, saya hanya
memikirkan persoalan pribadi saya, saya juga harus bisa sekolah seperti dia.
Waktu di SMP saya pernah berfikir, bahwa saya tidak mungkin bisa melanjutkan ke
SMA karena keuangan keluarga saya sedang menipis. Tapi saya tidak pernah
menyerah, saya berusaha terus untuk mendapatkan beasiswa dari prestasi saya.
Sebelum ujian sekolah, saya belajar dengan giat. Dan alhamdulillah hasilnya
memuaskan. Ada hal yang membuat saya bersyukur dan seneng banget. Saya
mendapatkan bea siswa dan bisa melanjutkan ke SMA. Sujud syukur saya sampaikan
kepada Allah SWT.
Sejak saya SMA, saya lalai dengan prestasi saya, saya hanya memikirkan
kebahagiaan diri saya. Bagi saya yang penting hari ini happy. Selama itu saya
tidak pernah peduli dengan orang tua. Dan karena kelalaian saya, akhirnya
prestasi saya turun dan beasiswa itu dicabut. Dari itu saya tahu, bahwa saya
salah dan telah mengecewakan orangtua saya. Kemudian saya bangun dari kegagalan
itu, bangkit dari kelalaian saya. Menaikan prestasi itu tindakan awal yang saya
lakukan, sampai akhirnya saya mendapatkan banyak teman untuk saling berbagi.
Dan saya bisa diterima di Perguruan Tinggi Negeri. Disitulah saya belajar banyak
hal terutama kemandirian.
Hari ini saya hanya bisa berdoa dan berusaha, semoga Allah memberkahi
jalan hidup saya dan melancarkan jalan saya untuk menuju kesuksesan. Dulu saya
pernah bercita-cita menjadi polisi dan pramugari, tapi Allah berkehendak lain,
sekarang saya berharap kedepanya saya bisa sukses dan membahagiakan kedua orang tua saya. Dengan jurusan yang saya
pilih sekarang, semoga menjadi jalan sukses saya. Saya bersyukur Allah masih
sayang sama saya. Sekarang yang harus saya lakukan adalah mempertahankan
prestasi ini dan membuktikan kepada orangtua saya. “bahwa Lulu bisa mah,pah”.
Semoga ini semua bisa menjadi jembatan kesuksesan saya nantinya, bisa
mendapatkan pekerjaan untuk mengubah dunia di perusahaan multinasional
sekaligus mendapatkan gaji tinggi. Hidup jangan hanya di jalani, tapi
berjalanlah dengan melihat keadaan, minimal kita akan melangkah lebih jauh,
karena mimpi yang kita kejar memaksa kita untuk itu. Dan kesuksesan yang
terbesar dalam kehidupan adalah bisa bangkit kembali dari kegagalan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar