Rabu, 10 Desember 2014

essay tentang hidupku



NAMA                  : Lulu Atun Nafisah
NIM                       : F1A014039
FAKULTAS           : Ilmu Sosial dan Ilmu Politik
PRODI                   : Sosiologi
KELOMPOK         : 19


“Hidupmu Dulu,Kini,dan Nanti”
   Hidup adalah anugerah, anugerah yang tak bernilai harganya. Kehidupan juga merupakan sebuah proses, sebuah kesempatan yang diberikan Tuhan kepada kita, agar kita tahu siapa diri kita, siapa tuhan kita, dan yang paling penting adalah apa tujuan kita diciptakan.
   Nama saya Lulu Atun Nafisah. Saya berada didunia ini karena kedua orang tua saya yang selalu dengan sabar merawat saya sejak kecil. Dulu saya tinggal di desa kelahiran ibu saya (Melayang). Disana saya merasa tenang, karena banyak orang-orang yang baik sama saya. Terutama sahabat kecil saya, Widia Nur Astuti namanya, dia biasa dipanggil Widi. Dulu kemanapun saya pergi pasti bareng dia. Bermain,makan,belajar, semua bareng dia. Tapi setelah saya pindah ke desa kelahiran bapak saya (Mergasana), saya menjadi jauh dengan dia. Bertemu dengan Widi merupakan mimpi setiap malam saya dan mimpi itu diwujudkan setiap saya berkunjung kerumah nenek.
   Sejak tahun 2009, Widi pindah ketempat bapaknya bekerja yaitu di Tanjung Pinang. Semakin jauh raga ini dengannya. Dia tidak pernah pulang, karena dia harus menyelesaikan sekolahnya disana. Dan mulai saat itu, saya hanya memikirkan persoalan pribadi saya, saya juga harus bisa sekolah seperti dia. Waktu di SMP saya pernah berfikir, bahwa saya tidak mungkin bisa melanjutkan ke SMA karena keuangan keluarga saya sedang menipis. Tapi saya tidak pernah menyerah, saya berusaha terus untuk mendapatkan beasiswa dari prestasi saya. Sebelum ujian sekolah, saya belajar dengan giat. Dan alhamdulillah hasilnya memuaskan. Ada hal yang membuat saya bersyukur dan seneng banget. Saya mendapatkan bea siswa dan bisa melanjutkan ke SMA. Sujud syukur saya sampaikan kepada Allah SWT.
   Sejak saya SMA, saya lalai dengan prestasi saya, saya hanya memikirkan kebahagiaan diri saya. Bagi saya yang penting hari ini happy. Selama itu saya tidak pernah peduli dengan orang tua. Dan karena kelalaian saya, akhirnya prestasi saya turun dan beasiswa itu dicabut. Dari itu saya tahu, bahwa saya salah dan telah mengecewakan orangtua saya. Kemudian saya bangun dari kegagalan itu, bangkit dari kelalaian saya. Menaikan prestasi itu tindakan awal yang saya lakukan, sampai akhirnya saya mendapatkan banyak teman untuk saling berbagi. Dan saya bisa diterima di Perguruan Tinggi Negeri. Disitulah saya belajar banyak hal terutama kemandirian.
   Hari ini saya hanya bisa berdoa dan berusaha, semoga Allah memberkahi jalan hidup saya dan melancarkan jalan saya untuk menuju kesuksesan. Dulu saya pernah bercita-cita menjadi polisi dan pramugari, tapi Allah berkehendak lain, sekarang saya berharap kedepanya saya bisa sukses dan membahagiakan kedua  orang tua saya. Dengan jurusan yang saya pilih sekarang, semoga menjadi jalan sukses saya. Saya bersyukur Allah masih sayang sama saya. Sekarang yang harus saya lakukan adalah mempertahankan prestasi ini dan membuktikan kepada orangtua saya. “bahwa Lulu bisa mah,pah”.
   Semoga ini semua bisa menjadi jembatan kesuksesan saya nantinya, bisa mendapatkan pekerjaan untuk mengubah dunia di perusahaan multinasional sekaligus mendapatkan gaji tinggi. Hidup jangan hanya di jalani, tapi berjalanlah dengan melihat keadaan, minimal kita akan melangkah lebih jauh, karena mimpi yang kita kejar memaksa kita untuk itu. Dan kesuksesan yang terbesar dalam kehidupan adalah bisa bangkit kembali dari kegagalan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar