Rabu, 13 Mei 2015

konflik politik yang ada di indonesia


Essay tentang konflik politik yang ada di Indonesia
   Konflik politik adalah suatu proses social antara dua orang atau lebih, dan salah satu pihak berusaha menyingkirkan pihak lain dan menyingkirkan dengan menghancurkannya atau membuatnya tidak berdaya. konflik terjadi karena masalah-masalah ketidaksetaraan dan ketidakadilan yang sebagai masalah-masalah soaial budaya politik dan ekonomi. Konflik politik  dapat berupa perbedaan pendapat, persaingan, dan pertentangan diantara sejumlah individu, kelompok ataupun organisasi yang dibuat dan dilaksanankan oleh pemerintah. Pemerintah tersebut meliputi lembaga legislatif, eksekutif dan yudikatif.
  Pada masa perang kemerdekaan konflik politik yang pertama terjadi diakibatkan oleh keputusan yang dibuat oleh PPKI tentang pembuatan sebuah partai tunggal bagi semua rakyat indonesia yaitu PNI (Partai Nasional Indonesia). Namun tidak terlaksana karena kurang dukungan yang akhirnya melalui Maklumat Presiden tanggal 4 November 1945 diberikan kesempatan membentuk partai-partai politik dalam rangka sistem multi partai.
   Masa ini konflik elit politik banyak terjadi terutama antara Presiden Soekarno dan Wakil Presiden Hatta mengenai penyelenggaraan negara. Pada intinya perbedaannya terletak pada sikap terhadap demokrasi Barat. Soekarno tidak ingin demokrasi barat (liberal demokrasi) di berlakukan di Indonesia. beliau ingin nilai-nilai asli bangsa Indonesia mewarnai kehidupan politik Indonesia. sementara Hatta sebaliknya ingin demokrasi barat dengan sistem parlementer yang berlaku. Puncak dari konflik ini adalah pengunduran diri Hataa dari jabatan wakil presiden pada tahun 1956.
   Masa Demokrasi Terpimpin ditandai oleh adanya usaha-usaha Presiden Soekarno untuk mempertahankan keseimbangan antara dua kekuatan politik utama, PKI dan ABRI. Oleh karena itu, persoalan utama yang dihadapi oleh Demokrasi Terpimpin adalah bagaimana Presiden Soekarno bisa mempertahankan keseimbangan antara keduanya sehingga tidak ada satupun kekuatan yang merasa lebih kuat untuk menumpas kekuatan lainnya. Soekarno memerlukan dukungan PKI yang muncul sebagai partai politik terbesar melalui manuver-manuver yang sistematis di daerah pedesaan di Jawa. ABRI berangsur-angsur tampil sebagai kekuatan politik baru dalam kancah politik Indonesia. Melalui dua fungsi ABRI yang didukung oleh Presiden Soekarno, ABRI memperoleh sarana untuk memperkuat kedudukannya melawan PKI. Secara historis, ABRI adalah lawan PKI karena dalam sejarah terbukti bahwa PKI melalui Pemberontakan Madiun 1948 ingin mengganti RI dengan negara lain. Oleh karena itu, G 30 S adalah penyelesaian konflik secara koersif yang dilakukan oleh PKI karena merasa dirinya sudah cukup kuat untuk melakukan pukulan terhadap ABRI dan Anti Komunis yang lainnya. Ternyata dugaan PKI salah karena ABRI dan Kelompok Anti Komunis tidak kalah dengan sekali pukul. Mereka yang diserang segera membalas sehingga terjadi peristiwa berdarah yang hebat.
   Menjelang Pemilu 1971 mulai terlihat bahwa Pemerintah Orde Baru menganut sifat yang sama dengan Soekarno dalam menghadapi konflik politik yakni kekhawatiran yang berlebih terhadap konflik. Elit politik Orde Baru selalu khawatir karena akan mengganggu kestabilan politik, integrasi nasional dan pembangunan nasional. Ketiga hal tersebut digunakan untuk alasan membatasi kebebasan di segala bidang. Dampak dari sikap tersebut adalah pembatasan terhadap kebebasan partai politik. Pada tahun 1973 diadakan penyederhanaan kepartaian yang menghasilkan tiga partai politik yakni: PPP, PDI, dan Golkar. Kemudian pada tahun 1985 dikeluarkan UU yang menetapkan Pancasla sebagai satu-satunya asas yang menutup kemungkinan bagi partai politik untuk mempunyai ideologi lain. Usaha pemerintah ini dinilai negatif karena dianggap membatasi kebebasan partai politik meskipun kenyataannya pertai-partai telah melakukan ketentuan tersebut.
   Kejadian yang mirip pada masa Demokrasi Terpimpin terulang kembali. Kekhawatiran yang berlebih terhadap konflik politik menghasilkan tindakan-tindakan represif terhadap konflik yang menghilangkan kebebasan yang menimbulkan ketakutan di dalam masyarakat. Berkurangnya konflik karena kekerasan yang dihasilkan tindakan represif mengakibatkan terbentuknya kekuatan absolut dan otoriter. Bila masa Soekarno menghasilkan pembrontakan G 30 S dan kemelaratan rakyat, masa Soeharto menghasilkan kebangktutan negara karena korupsi yang luar biasa hebatnya diikuti oleh krisis politik dan krisis ekonomi yang menimbulkan penderitaan rakyat. Dibandingkan dengan masa Soekarno, masa Soeharto menghasilkan kekacauan yang lebih parah karena malapetaka yang dihasilkan oleh pemerintah yang otoriter itu tidak hanya krisis politik dan krisis ekonomi tapi juga krisis moral yang memerlukan waktu yag panjang untuk mengatasinya.
   Pada masa SBY sekarang ini yang lebih cenderung pada politik pencitraan dimana segala sesuatu selalu dibesar-besarkan demi kepentingan kekuasaaan. Terbukti SBY dengan politik pencitraan itu SBY mampu menjadi presiden selama dua periode. Setelah memenangkan Pilpres 2009, SBY menghadapi persoalan pelik menghadapi ancaman konflik internal koalisi partai pendukung pemerintahannya. Hal itu karena dengan dukungan 23 partai pada Pemilu 2009 dimana setiap partai mengusung ideologi dan pendapatnya sendiri. Akibatnya SBY akan memakan waktu lama bila memutuskan suatu kebijakan hal ini yang kemudian dipersepsikan masyarakat sebagai presiden yang ragu-ragu.
   Konflik koalisi yang masih hangat adalah menolak kenaikan harga BBM. Dimana salah satu partai koalisi dalam kabinet Indonesia Bersatu Jilid II yaitu PKS tidak mendukung kebijakan SBY dalam parlemen. PKS menolak untuk menaikkan harga BBM bersubsidi dan alhasil dengan tidak didukungnya kebijakan SBY oleh PKS maka DPR dengan jalan voting memutuskan untuk tidak menaikkkan harga BBM. Kemudian masalah penghianatan koalisi ini yang sekarang mengerucut menjadi isu Reshufflekabinet.
   Memahami konflik politik yang terjadi di Indonesia dilihat dari sudut pandang penyelesaian konflik dapat dibagi menjadi dua yaitu sejak masa perang kemerdekaan sampai orde baru dan setelah orde baru sampai saat ini. Sejak perang kemerdekaan hingga Orde Baru penyelesaian konflik dilakukan dengan cara kekerasan. Penyelesaian konflik seperti ini menurut Marx ada dua sebab , pertama karena tidak ada tawar-menawar kelas borjuis dengan proletar. Kedua, kelas borjuis, sebagaimana manusia pada umumnya tidak akan mau mengurangi kenikmatan yang mereka peroleh selama ini. Sementara setelah Orde Baru terjadi keterbukaan pimikiran bahwa pnyelesaian konflik dengan cara kekerasan mulai ditinggalkan. Penyelesaian konflik politk ini yang seharusnya dipilih dalam perkembangan politik Indonesia ke depan.





Tidak ada komentar:

Posting Komentar